TIFOSI,HOBI & ENTREPRENEURSHIP

Mari berbagi pengalaman

Selasa, 18 Juni 2013

Paul Cumming!! NYATA Kecintaan terhadap Sepak Bola Tanpa Syarat {PART 2}

Usai terkatung-katung selama tinggal di Papua, Paul Cumming akhirnya menemukan tempat berkarier baru. Adalah Tony Betay yang membawanya untuk menangani PSBL Bandar Lampung. Gubernur Lampung saat itu, Poedjono Pranyoto, yang memimpin Lampung selama 2 periode (1988-1993 dan 1993-1998) meminta Paul mengembangkan sepakbola di Lampung.

Paul dan Poedjono bukan kali itu baru saling kenal. Saat Paul membesut Perseman Manokwari, kebetulan waktu itu Poedjono menjabat sebagai wakil gubernur Irian Jaya. Di situlah awal perkenalan keduanya. Poedjono sedikit banyak mengerti bagaimana Paul mampu membangkitkan kesebelasan semenjana seperti Perseman. Untuk itulah, guna menghidupkan kembali PSBL, Paul diminta bekerja di Lampung.

Karenanya, selama tujuh tahun Paul membesut PSBL (1991-1998). Di saat prestasi PSBL mencapai titik puncak dengan mampu lolos ke babak 4 Besar Liga Indonesia di Senayan, krisis politik menimpa Indonesia dengan lengsernya rezim Orde Baru. Kerusuhan di Jakarta membuat kompetisi ditunda, tim yang sudah menginap di Jakarta pun terpaksa kembali pulang.

Selang beberapa bulan kemudian, efek domino krisis ekonomi nasional mulai berimbas pada klub. Demi alasan penghematan, Paul terpaksa dipensiunkan. Tahun 1998, usai pemecatan itu, ia pun kembali berjuang melawan tekanan ekonomi dan beralih haluan membuka usaha penyewaan perahu di Pantai Ringgung, Lampung Selatan.

Tragedi lain dalam kehidupan Paul pun kembali mengintai….

Perahu, kios kecil dan bulan-bulanan preman

Ia mempunyai 12 perahu atau sampan yang biasa disewakan kepada nelayan atau wisatawan. Tarif yang ia patok berkisar Rp10.000 – Rp 15.000 per hari. Ia juga memilki kios kecil di pinggir pantai. Dengan cekatan ia akan membuat kopi atau mie rebus bagi wisatawan yang memesan. Sayang, usahanya itu tidak berjalan memuaskan.

Selain sepi, ia pun kerap dipalak preman-preman. Dana setoran sewaan dan keutungan warung terpaksa ia serahkan kepada preman-preman. Terkadang ia sembunyi di kebun atau hutan selama berjam-jam, menunggu preman yang tak lelah mengganggunya itu pergi dari kiosnya.

Jika tak setor, Paul terus menerus diteror dan diganggu. Sebagai seorang pecinta hewan, banyak piaran ia punya mulai dari monyet, anjing, burung, domba hingga kucing. Tragisnya, hewan piarannya satu per satu mati diracun orang. Seekor domba jantan langka yang doyan makan kabel dan pernah membuat Lampung geger karena kebiasaannya itu pun mati diracun orang yang konon tak suka padanya.

Kriminalisasi memang sudah menjadi bagian dari hidup Paul. Bukan sekali dua perahunya dirusak dan dicuri orang. Sudah 12 kali perahunya hilang dan rumahnya kecurian. Entah siapa pelakunya.

"Saya juga heran, saya sangat dikenal di Lampung tapi kenapa mereka memperlakukan saya seperti ini?" keluhnya.

Petaka ditusuk preman

Puncak kesialan Paul terjadi 27 Juli 2001. Ketika itu dia berkunjung ke toko sembako 'Senang' di Bandar Lampung untuk membeli bahan pokok yang akan ia jual di pondok kecilnya. Kebetulan di toko itu ada 15 preman bersenjata samurai, golok dan pisau sedang memalak pemilik toko.

Tanpa sebab alasan, seseorang dari mereka mengejar Paul. Enam tusukan pisau ditancapkan ke punggungnya. Dengan luka berceceran Paul berusaha kabur dan langsung melapor ke kantor polisi. Bukan pertolongan yang ia dapat, pihakaparat malah memintanya terlebih dahulu membuat laporan bertele-tele, padahal kondisinya saat itu berlumuran darah. Sebuah kisah klasik polisi di Indonesia.

Beberapa lama kemudian, sang pelaku bernama Beny ditangkap. Belum lama luka tusukan itu terasa, keluarga Beny dan rekan-rekan premannya mendatangi Paul. Di bawah tekanan dan ancaman, secara terpaksa Paul memaafkan Beny dengan menandatangi surat damai di Polres Bandar Lampung. Alhasil hukuman Beny pun sangat ringan.

"Waktu itu di pengadilan sedang ada dua kasus persidangan, kasus penusukan saya dan kasus yang maling ayam. Yang kasus saya, Beny hanya dijatuhi hukuman 6 bulan, sedangkan yang maling ayam hukuman penjara 2 tahun," tuturnya sembari tersenyum.

Kepedihan selanjutnya

Tak tahan dengan situasi itu, akhir tahun 2001 Paul pergi ke Nabire, Papua. Saat di Papua ia memang memiliki rumah di sana. Alangkah kagetnya saat kembali ke Nabire tak ada yang tersisa dari rumah itu. Semua perabotan barang yang ia kumpulkan semasa berjuang mati-matian naik turun gunung, berlayar dari satu pulau ke pulau lain nyaris tak ada sisa. Tinggal atap dan tembok saja. Semua harta sudah ludes, apa yang ia miliki di Lampung sudah dijual demi merenovasi rumah di Nabire.

Tahun 2002, Perseman Manokwari kembali mengaetnya. Gajinya teramat kecil. "Tak apa kecil, yang penting ada uang buat makan," katanya. Sayang, lagi-lagi karir Paul tak lama. Semusim kemudian, dia tak lagi dipekerjakan Perseman.

Usai diberhentikan oleh Perseman 2003, kembali hidupnya menderita. Di tahun itu ia sempat sakit malaria, tak punya uang untuk ke dokter Paul pun merana di pondok kecilnya. Ia memang tinggal sendirian dan jauh dari keramaian, Sejak tinggal di Lampung ia memang senang menyendiri. Saat tingga di Nabire, tetangga terdekatnya paling banter 1 km. Dalam kondisi sakit malaria dan terasing, beruntung seseorang pengusaha Julius Permadi menjemputnya dan merawatnya hingga sembuh.

Setelah sehat, di tahun 2004, ia memutuskan sementara waktu untuk ikut sang Istri yang menjadi guru di Malang terlebih waktu itu Nabire dilanda gempa hebat, ia pun mengungsi. Tak menganggur lama, Paul diajak untuk melatih tim futsal Universitas Airlangga di Surabaya tahun 2005. Feedback yang dapatkan sangatlah kecil, Sebuah tempat tinggal dan Gaji bulanan 1 juta per bulan. "Tak ada pemasukan lain, semuanya diirit-irit," ungkapnya.

Setahun kemudian, PSBL kembali memanggilnya, ia pun kembali ke Lampung. Paul kali itu dijadikan alat politikus oleh calon yang hendak ingin maju jadi walikota Bandar Lampung. Jadi kendaaran politikus memang tak mengenakan. Setahun melatih PSBL ia sama sekali tak dibayar. Ada hikmah di balik musibah, Dewi fortuna mendatanginya, panggilan datang dari Bupati Teluk Wondama Papua Barat. Ia diminta mengembangkan sepakbola di kabupaten baru yang hanya berpenduduk 12.000 keluarga itu.

Diberi kepercayaan, semua hal ia curahkan. Mulai dari mendesain kostum, membelikan sepatu pemain, mengumpulkan suporter, hingga membenahi manajemen klub. "Di sana itu masyarakatnya tak begitu suka bola, tak ada pemain bagus dan lapangan yang layak," tuturnya.

Apa yang dilakukan membuahkan hasil, Persiwon yang biasa berkutat di Divisi III lolos ke tahapan selanjutnya. Berkat tangan dinginnya juga nama Patrich Wangai berhasil ditemukan. Bersama dengan Paul, Patrich berhasil membuat Persiwon lolos ke Divisi II, setahun berikutnya ke Divisi I. Tahun 2008, ia diminta untuk membesut tim PON Papua Barat di ajang PON Kaltim.

Tak mengecewakan, anak asuhnya bermain bagus. Sang juara Jawa Timur digebuk 2-0. Hanya saja, permainan kotor yang dilakukan DKI Jakarta membuat timnya kalah 2-0. Alhasil di laga penentuan, Jatim dan DKI bermain mata. Hasil imbang di antara keduanya cukup untuk membuat Papua Barat terhenti di babak 6 besar.

Usai gelaran PON berakhir, ia kembali ke Persiwon, sampai petaka tersebut terjadi. Gonjang-ganjing kepengurusan PSSI di Jakarta tahun 2010 membuat perjalanan kompetisi jadi tak menentu. Usai menjalani kompetisi divisi I di Banyuwangi, agar tak bolak-balik Papua-Jawa dan menghemat ongkos, tim melakukan latihan di Malang. Bulan demi bulan berlalu, sejak Desember 2010 hingga Agustus 2011 tim tetap kompak rutin latihan.

Hanya saja di penghujung bulan Agustus kabar tak enak itu tiba juga. Secara sepihak manajemen klub Persiwon memecat Paul. Kerugian finansial yang ia dapat tidaklah sedikit, selain gaji yang tak dibayar selama 10 bulan ia pun harus menalangi biaya akomodasi tim selama berbulan-bulan latihan di Malang.

"Uang saya tak diganti, mau gimana lagi. Kerugian saya mencapai puluhan juta. Uang segitu bagi saya sangatlah berarti, itu uang hasil nabung bertahun-tahun," keluhnya.

Stresnya kian bertambah setelah tahu untuk kedua kalinya, satu-satunya harta yaitu rumah di Nabire, rata dengan tanah. Lebih parah lagi, semua isi perabotan rumah, elektronik, parabola bahkan sampai kusen, pintu, jendela, dan atap aluminium ludes dijarah orang “Di sana sekarang sudah rata dengan tanah, karena besi-besi rangka pun dicuri membuat tembok jadi ambruk,” ucapnya dengan raut sedih

Paul Cumming!! NYATA Kecintaan terhadap Sepak Bola Tanpa Syarat {PART 1}

Rumahnya agak menjorok ke dalam Dusun Drigu, Desa Poncokusumo Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasi rumahnya terpencil dari peradaban manusia lainnya. Sunyi dan sepi.

Sesekali terdengar suara hiruk pikuk manusia dan lalu lalang kendaraan bermotor. Tetapi semua itu tenggelam dalam orkestra kodok dan jangkrik yang lebih kentara terdengar di luar.

Rumah sederhana itu sekelilingnya dipenuhi kebun yang rimbun: kebun apel, cabai, tomat, dan sayur-sayuran yang dipagari kawat dan kayu. Hanya ada satu jalan untuk mencapai rumah itu, melewati jalan tanah coklat setapak yang jarang diinjak manusia.

Bagi beberapa orang tempat ini membosankan, apalagi kalau malam. Di luar nyaris gelap gulita tak ada kerlap-kerlip lampu-lampu bohlam tetangga. Tapi jangan kaget bukan main alangkah indahnya suasana alam di pagi hari. Tepat di depan rumah, dengan sombong gunung Semeru kokoh tegak menantang.

Desa Poncokusumo memang daerah dingin di lereng Gunung Semeru, 30 Km dari Kota Malang. Udara bersih dan sejuk didapat secara gratis sepuasnya. Sesuatu hal yang langka bagi orang kota.

Beruntunglah Paul Cumming dapat menghabiskan massa tuanya di tempat itu. Tapi benarkah dia beruntung?



Ada yang masih ingat dengan Paul Cumming? Seseorang yang menjadi idola suporter klub Galatama asal Jakarta yaitu Indonesia Muda di tahun 1981 hingga 1983. Beberapa mengenangnya sebagai sosok pelatih asing kontroversial yang amat dicintai masyarakat Papua, namun dibenci suporter bola asal Jawa di pertengahan dekade 80an.

Permainan keras yang menjadi ciri khas Perseman Manokwari kala itu membuat anak asuh Paul dicaci habis-habisan baik oleh pengamat, media maupun penggila bola. Bergeming, Paul tetap melanggeng dengan polanya yang terkenal keras -- PSMS Medan pun bukan tandingannya.

Benar saja, usai menjadi juara Divisi I tahun 1983, Perseman menjadi kuda hitam baru di kompetisi perserikatan dengan menjadi tim terbaik nomor empat di tahun 1985, serta runner-up 1986 sebelum ditaklukan Persib Bandung 1-0 lewat gol tunggal Djadjang Nurdjaman di partai Grand Final.

Paul adalah pula legenda bagi masyarakat Bandar Lampung. Namanya melegenda tapi dia bukan tokoh fiksi. Paul adalah manusia nyata. Kesuksesannya menangani klub Papua membuat ia ditarik mantan gubernur Lampung, Poedjono Pranoto, untuk membesut PSBL Bandar Lampung. Sepakbola Lampung pun menuai kejayaan. Setelah selalu berkutat di Divisi II, Paul bisa membawa PSBL promosi ke Divisi I dan Divisi Utama. Pekerjaan yang tak mudah tentunya.

Usai dipensiunkan secara paksa dari PSBL akibat keuangan klub yang defisit, Paul terpaksa menganggur. Beruntung kemudian Perseman mengontaknya kembali. Sampai tahun 2011, Paul kembali menetap di Papua sembari sempat melatih tim PON Papua Barat dan Persiwon Wondama.

***

Di Indonesia, Paul adalah orang kedua yang dinaturalisasi akibat urusan sepakbola. Orang asing pertama yang menjadi WNI gara-gara sepakbola adalah Toni Pogacnik, eks Pelatih Timnas tahun 1950an. Dan orang kedua itu adalah Paul Cumming, seorang Londoners yang teramat cinta kepada Negeri Zamrud Khatulistiwa.

Di masa itu sangat langka pesepakbola atau pelatih asing yang ingin berganti kewarganegaraan menjadi WNI. Paul termasuk orang langka itu. Prosesnya tidak mudah dan berbelit-belit. Selain memakan waktu lama, besarnya kontribusi terhadap sepakbola Indonesia pun menjadi kewajiban utama lainnya bagi siapa pun yang ingin jadi WNI.

Proses Paul menjadi WNI tidaklah semudah yang diterima Sergio Van Dijk, Kim Jefrey Kurniawan atau pemain asing naturalisasi lainnya. Setelah menunggu waktu 19 tahun, pasca kedatangannya pertama kali ke Indonesia tahun 1980, akhirnya pada 10 November 1999, Pengadilan Negeri Bandar Lampung mengetok sah dirinya sebagai WNI. Beruntung nasib Paul tak setragis sang pendahulu Toni Pogacnik yang keburu meninggal sebelum dirinya disahkan sebagai WNI.

Paul adalah generasi awal pelatih asing yang berani membesut klub-klub sepakbola di Indonesia. Dia seangkatan bersama Marek Janota, Wiel Coerver dan Fred Corba. Mereka menjadi bagian dari kebangkitan kompetisi Galatama. Mereka pun jadi saksi, betapa Galatama porak-poranda akibat pengaturan skor ulah mafia judi bola.

Pengalaman pahit saat Berniaga di Pedalaman dan Pesisir Papua

Entah mengapa dia betah berlama-lama di Indonesia, toh secara financial kehidupan Paul biasa-biasa saja. Selama ini selalu ada persepsi bahwa orang asing yang tinggal di Indonesia adalah kaum borjuis berdompet tebal. Paul jauh dari anggapan seperti itu. Dia mungkin "pebola naturalisasi" paling malang di Indonesia. Dari dulu hingga sekarang, dompet cekak selalu ia rasakan.

Hidupnya selama Papua di awal tahun 1990an terkadang butuh perjuangan ekstra dan menderita. Untuk tetap bisa bertahan hidup, ia tinggal di daerah pedalaman dan berdagang sembako menggunakan perahu dari pulau ke pulau di Teluk Cendrawasih.

Sialnya, usahanya itu kena tipu orang. Karena terlalu percaya, ia serahkan semua perniagaan kepada anak buahnya. Sang anak buah berdusta mengatakan kepada dirinya kapal terbalik dan barang dagangan habis tercebur ke laut. Ia pun dinyatakan bangkrut total, karena harus membayari barang-barang jualannya yang belum dibayar. Tapi ia tak menyerah dan kembali meniti usaha perniagaan berjualan sembako ke daerah tambang-tambang.

Akan terasa "ngeh" melihat bule di pedalaman Papua untuk menyambung perut ia harus menaiki motor trail dengan barang bawaan sembako penuh. "Jalannya menanjak bukan main, untuk menempuh tambang saya harus berkendara 8 jam melewati hutan sembari bawa barang-barang digendong di belakang," ucapnya.

Baru beberapa bulan usahanya berjalan, Paul kembali terkena sial. Lagi-lagi ia kena tipu akibat bujuk rayu oknum warga yang meminta ia meninggalkan barang dagangannya di tambang. Ia pun hanya mengelus dada meratapi nasibnya itu.

Dan itu hanyalah satu dari belasan kisah tragis Paul yang akan terus berlanjut sampai hari ini.

Selasa, 11 Juni 2013

FAKTA FAKTA MENARIK

Berikut beberapa fakta yang mungkin anda tak kira,, bahkan saya yang membacanya pun antara percaya dan tidak percaya. dari pada saya gila sendirian mendingan kalian juga baca ya,, heheh

1. Hanya 1% dari populasi manusia di dunia yang bisa menjilat sikunya.

2. Daur ulang satu botol kaca = menghemat energi yang cukup untuk menonton TV selama 3 jam.

3. Otak menggunakan 20% dari energi tubuh.

4. Sebuah study mengatakan bahwa manusia yang tidur menggunakan banyak bantal biasanya cepat depresi.

5. Jeruk nipis memiliki sifat sangat asam sehingga dapat mematikan bakteri penyebab batuk.

6. Ada lebih dari 50,000 sel yang mati di kulit kita setiap menitnya.

7. Penciuman semut sama tajamnya dengan penciuman anjing.

8. Tertawa selama 15 menit dapat mebakar sekitar 40 kalori.

9. Ambergris (muntahan sperma ikan paus) telah ditambahkan ke rokok untuk rasa.

10.  Sekurang-kurangnya ada 5 orang di dunia yang menyayangi Anda dan sanggup mati karena Anda.

11. 

Minggu, 09 Juni 2013

Real Madrid Legenda vs Juventus Legenda - 9/6/2013

Buat kalian yang belum liat Pertandingan tadi malam antara Juventus Legend VS Real Madrid Legend bisa di sedot di bawah ini gan.. buat mengingat kembali memori juve jadul, ada Montero, Nedved, E. David, dll.. 



FUTBOL: Amistoso - Real Madrid Estrellas vs Juventus Estrellas - 9/6/2013

DESAS DESUS HIGUAIN

Juventus memang serius mengejar Gonzalo Higuain di musim panas ini. ya semoga bukan PHP nih,, Tapi mengenai kepastian apakah Higuain jadi dibeli menunggu El Real mengontrak pelatih barunya.

Higuain memang sudah mengumumkan akan pergi dari Madrid di bursa transfer. Juve langsung jadi kandidat terkuat untuk mendapatkan tanda tangan pemain Argentina itu mengingat mereka sedang mencari penyerang top guna memperkuat lini depan yang kita tau bersama musim kemarin lini depan juve sedikit tumpul, padahal lini tengah juve memiliki pirlo yang luar biasa assitnya.

Tapi Tak cuma Juve, klub-klub seperti Arsenal, Manchester City, Paris St Germain atau Liverpool juga tertarik mendatangkannya. Tapi Bianconeri jadi klub yang paling memperlihatkan keseriusannya dan sudah mengirim Direktur Umum, Beppe Marotta ke Madrid.

Tapi sayangnya negosiasi yang dilakukan Marotta buntu meski kedua belah pihak diklaim sudah sepakat di harga 22 juta euro. Masalah utamanya adalah Madrid kini belum punya pelatih baru pasca ditinggal Jose Mourinho.

Keputusan soal masa depan Higuain baru akan bisa diketahui setelah ada pengganti Mourinho, karena mungkin saja jasa penyerang 25 tahun itu masih dibutuhkan.

"Untuk saat ini Higuain tidak dijual karena Madrid menunggu hingga mereka memiliki pelatih baru," kata opa marrota... 
Tapi nih menurut kalian Cocok ga si Higuain bermain Di juventus??

Sabtu, 08 Juni 2013

Kisah tragis korban Mei 98, terbakar saat jarah gitar idaman



sebuah cerita pristiwa yang cukup tragis,, semoga kedepan indonesia tidak lagi terjadi yang seperti ini ya.

Lima belas tahun sudah tragedi Mei 1998 berlalu. Kerusuhan dan penjarahan toko-toko terjadi di seluruh penjuru Jakarta. Yogya Plaza yang berada di daerah Klender, Jakarta Timur, menjadi sasaran amuk masa jelang kejatuhan rezim orde baru.

Leo (55), lelaki paruh baya ini masih mengingat jelas peristiwa pembakaran Yogya Plaza yang menewaskan putra pertamanya, Toni yang ketika itu berusia 16 tahun. Leo mengaku tak percaya saat mengetahui sang anak tewas terpanggang.

"Waktu itu, anak saya memang meminta izin untuk melihat ke sana, soalnya banyak tetangga yang pulang membawa hasil jarahan dari sana, dan sudah saya larang tapi dia nekat," ucapnya saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (11/5) malam.

Leo melanjutkan, khawatir keberadaan putranya saat mengetahui adanya pembakaran pusat perbelanjaan favorit bagi warga Klender itu. Dia pun mendengar kabar bahwa sang anak ikut masuk ke dalam bangunan berlantai enam itu dari salah satu teman Toni yang sempat bertemu sebelum terbakar.

"Temannya bernama Roy bilang, anak saya masuk ke dalam katanya mau ngambil sebuah gitar, karena memang dia senang gitar. Mendengar itu istri saya langsung pingsan," kisahnya.

Pria yang bekerja sebagai sopir taksi ini awalnya masih tidak percaya putranya ikut menjarah. Namun, sehari pasca pembakaran dia mulai meyakini anaknya memang telah menjadi korban. Sebab, Toni tidak kunjung pulang ke rumahnya usai kejadian nahas itu.

"Pagi harinya saya langsung ke Yogya, di sana memang sudah banyak mayat-mayat yang hangus. Di situ saya sudah pasrah," terangnya.

Di hari kedua, Leo terus mencari tahu keberadaan anaknya, dia tetap berharap anaknya masih hidup dan tidak berada di antara tumpukan mayat-mayat. Namun, kabar duka menghampirinya saat itu juga, tim evakuasi menemukan jenazah putranya yang tengah memeluk sebuah benda, yaitu gitar.

"Saat itu badan lemas, saya melihat jenazah anak saya memeluk gitar yang memang sudah hangus sebagian. Saya tahu itu anak saya, dari baju biru bertuliskan nama sekolah yang dipakai saat terakhir bertemu. Itu ada sebagian yang tidak terbakar," kenangnya dengan wajah sedih.

Kini Yogya Plaza telah dibangun kembali dan bernama Mall Citra Klender. Seminggu setelah pembakaran, cerita mistis pun sering menjadi pembicaraan masyarakat sekitar terkait peristiwa yang menewaskan ratusan orang ini. Bahkan saat peresmian Mall Citra Klender, acara doa bersama (tahlilan) pun di adakan besar-besaran dengan memotong satu ekor kerbau sebagai syarat mengusir mahluk halus pada saat itu.

Jeremy Teti Nyanyi! - BBM CAMPURAN ngakaakakakakak (Speech Composing by @EkaGustiwana)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More